Batas



Ketika dia adalah “dirinya”, dan ketika dia bukanlah “dirinya”

*

DEMI apa pun, aku tidak pernah membayangkan seseorang akan menjarah milikku yang paling berharga seperti ini. Sepanjang hidup, aku menjaganya semampuku. Tak sudi kuizinkan seorang pun melihat, membuka, atau menggerayanginya. Apalagi itu dilakukan di depan mataku sendiri. Dan detik ini, semua kengerian itu terjadi.

     O, tidak. Ini mimpi buruk! Ini benar-benar mimpi buruk!

    Seseorang mengobrak-abrik kardus berukuran 30x40x20 cm yang kusimpan di sudut terdalam lemari baju. Isinya terhampar, berantakan di atas tempat tidur. Setumpuk buku harianku—iya, buku harianku—kini berkenalan dengan tangan dan mata lain selain pemiliknya. Dan, sialnya, tangan dan mata itu adalah milik suamiku sendiri.

     O, aku sangat berharap ini hanya mimpi buruk.

    Sayangnya, ini bukan mimpi. Ini nyata, senyata aku melihat suamiku yang juga terkejut mendapatiku berdiri kaku di pintu kamar.

*

    Aku tidak ingat sejak kapan persisnya aku terbiasa menulis diari. Mungkin, sejak SMA, atau sejak SMP, atau mungkin lebih dini dari itu. Yang jelas, sampai sekarang, di usiaku yang ke-dua puluh dua dan baru saja menyandang status sebagai istri, buku-buku itu sudah terkumpul sampai dua kardus full. Kalau dilihat sekilas dari model, ukuran, dan warnanya yang beragam, mungkin tidak akan ada yang mengira dua kardus itu adalah rekam jejak paling jujur dari sejarah diriku selama hampir dua dekade.

    Maka, siapa pun yang ingin mengenal, menjatuhkan, atau pun mengorek rahasia tentangku, ia bisa dengan mudah melakukan semuanya lewat buku-buku itu. Mereka layaknya sahabat yang setia menemani: saat rapuh, terpuruk, bahagia, pun jatuh cinta. Untuk alasan itulah, kukira wajar untuk menjaganya mati-matian, melindunginya dari orang-orang. Dan kini, ruang pribadi itu telah dibobol tanpa aba-aba. Aku kecolongan.

    Kalau sudah begini, apa yang bisa kulakukan untuk memperbaiki batas yang rusak itu?

*

    Dengan perasaan tak karuan, aku berjalan mendekati tempat tidur. Suamiku masih belum bereaksi. Tatapannya kembali tertuju pada salah satu halaman dari buku yang ia pegang. Ah, buku bersampul biru itu catatan harianku tahun lalu. Sambil mengingat-ingat apa saja yang tertulis di sana—jaga-jaga takutnya dia menginterogasi—percakapan kami beberapa menit sebelumnya kembali berputar di kepala.

    Terdengar suara pintu depan dibuka, diikuti langkah kaki yang sedikit tergesa. Itu pasti suamiku. Aku yang sedang tanggung menggoreng di dapur hanya berteriak kecil menyambutnya, “Mas, tumben jam segini sudah pulang?”

    “Iya, Dek. Ada yang ketinggalan,” jawabnya singkat. Sejurus kemudian, suara grasak-grusuk samar terdengar. Sepertinya dia memang terburu-buru.

      Masih dari dapur, aku kembali bertanya, “Mas nyari apa, memangnya?”

     “Kamu tahu di mana Mas nyimpen jas almamater, Dek?” Kepalanya sudah nongol di pintu dapur.

     “Sudah aku simpan di lemari, Mas,” jawabku sambil geleng-geleng kepala. “Salah siapa ditinggal di pohon mangga belakang rumah. Untung gak kena hujan.”

       Mendengar itu, dia hanya nyengir, memamerkan deretan giginya yang rapi, lalu buru-buru kembali ke kamar.

*

     Itulah masalahnya. Seharusnya aku bilang lebih spesifik jas itu disimpan di mana, agar ia tak perlu menggeledah lemariku—ah, ralat, lemari kita—sedemikian rupa. Niat hati ingin memastikan jasnya sudah ketemu atau tidak, aku malah mendapati “barang berhargaku” berantakan dilindas penasaran.

      Di tepi kasur, aku tersenyum getir, sementara dia kini mulai menatap ke arahku. Sedikit pun aku tak berani membalas tatapan itu. Netraku hanya bergantian memandang lemari di sudut kamar—yang tataannya sudah tak karuan, dan puluhan buku warna-warni yang terhampar tak beraturan. Beberapa tampak terbuka, tanda ia sudah terjamah.

     Ah, andai aku menyimpannya di laci meja rias, atau di kolong ranjang, atau di ruang bawah tanah sekalian (eh, memangnya di rumah ini ada?), mungkin aku tidak akan semenyesal ini.

*

      “Dek,” panggil suamiku akhirnya. Suaranya pelan, tapi sedikit bergetar.

    Aku hanya menoleh, tak kuasa menjawab barang sepatah kata. Kepalaku sesak oleh ribuan kalimat yang pernah kutorehkan di lembaran-lembaran itu. Benakku sibuk menerka-nerka, rahasia mana yang ia temukan?

  “Ternyata ... ” Ia berhenti sejenak dan menggeser posisinya lebih dekat. “Ternyata, kamu sudah mencintai Mas sejak dulu ... ”

      Astaga!

    Rasanya, jantungku seperti berhenti bekerja. Dari sekian banyak episode, kenapa harus bagian itu yang ia highlight?

      “Ternyata, perasaanmu buat Mas sedalam itu ... ”

   “Ternyata, selama ini Mas salah, mengira kamu mau menikah dengan Mas hanya karena kita dijodohkan. Ternyata– ”

     “Cukup, Mas,” selaku, sebelum kata ternyata itu berhamburan lebih banyak lagi.

*

     Ini benar-benar konyol. Aksa, pemilik nama yang hampir saban hari kuukir di separuh terakhir buku-buku itu, kini benar-benar duduk di hadapanku. Menatapku penuh kasih. Menggenggam tanganku yang gemetar. Menyentuh pipiku yang mulai basah oleh air mata. Dan, merengkuh tubuhku yang sejak tadi terdiam kaku.

     Entah seperti apa aku di matanya sekarang.

      “Maaf, Dek. Mas terlambat menyadari perasaanmu,” bisiknya lembut di telingaku. “Andai dari dulu Mas tahu, takkan Mas biarkan permata sepertimu menunggu dalam harapan semu.”

     Air mataku mengalir semakin deras. Perasaanku campur aduk, antara ingin marah, karena seseorang—meski dia suamiku—telah melewati batas privasi yang selama ini kubentengi; malu mengingat ribuan diksi dan sederet puisi yang kutujukan untuknya, serta terharu, tak menyangka takdir Tuhan ternyata se-plot twist ini. Siapa yang akan mengira, bahwa laki-laki yang dikenalkan padaku dua bulan sebelum kami menikah, adalah satu-satunya laki-laki yang berhasil membuatku larut dalam megahnya rasa.

        Tapi ... tunggu dulu. Sejak kapan Aksa memanggilku dek?

*

      “Dek?” ia memanggil lagi.

     “Hmm.”

     “Kamu ... kenapa? Tiba-tiba meluk kayak gini? Ini ... bukan sogokan, kan?” tanyanya hati-hati.

     Sontak aku mendongak, menatap sosok pemilik suara itu. Mataku mengerjap berkali-kali. Suaraku tercekat di tenggorokan.

       O, Tuhan!

       Sejak kapan wajah Aksa berubah? Atau, aku memang tak pernah menikah dengan Aksa?

    Aku mengucek-ngucek mataku. Berusaha mencari kejelasan di realita yang bahkan aku pun tak tahu batasnya di mana. Namun, sekali lagi, bisikan itu terdengar sangat nyata.

    “Siapa Aksa, yang kamu tulis berulang-ulang di buku harianmu?”

     Ia kembali bertanya. Kali ini, sungguh, aku tak sanggup memandang raut wajahnya yang menuntut penjelasan.

    Di hadapanku, Raka menatap dengan intens. Tatapannya tajam dan terasa ... mendesak. Wajahnya memerah. Dari sudut mata, aku bisa melihat tangan kirinya mengepal keras, sementara tangan kanannya memegang bahuku.

    Sekali lagi, ia bertanya, “Mas nanya barusan Dek, siapa Aksa? Apakah dia orang itu? Yang membuatmu terkurung dalam harap selama ini?”

     Aku tak kuasa menjawab, karena semua itu benar adanya.

    “Dek?” bisiknya lagi. Lebih lembut, lebih pelan, sekaligus lebih menusuk. Aku tahu, ia sedang berusaha meredam badai. Belum pernah aku melihatnya setegang ini. Demi apapun, aku benar-benar merasa bersalah. Mana mungkin aku tega menyakiti sosok yang mencintaiku setulus dia?

*

      Dengan sisa-sisa keberanian yang susah payah kukumpulkan, aku mengangguk. “Ma-maaf, Mas.”

    Terdengar helaan nafas berat. Aku memejamkan mata, pasrah. Namun, sejurus kemudian, aku merasakan kedua tangannya merengkuhku, membawa tubuhku dalam dekapannya. Samar, terdengar gumaman Raka yang membuatku sedikit lega, “Iya, gapapa. Gapapa.”

    “Mas jangan marah,” cicitku. “Dia cuma masa lalu. Pemenangnya tetap kamu,” tukasku kemudian, sambil takut-takut mendongak, menatap wajahnya.

     Perlahan, senyum indah itu terbit lagi. Perlahan, urat tangannya kembali mengendor. Perlahan, badai yang ia tahan sekuat tenaga mereda.

    Dan tanpa dia tahu, perlahan, pandanganku mulai kabur. Sosok di depanku berganti-ganti. Satu detik, aku melihat Aksa dengan senyum lebarnya. Detik berikutnya, gantian Raka yang menatapku dengan tulus. Detik-detik berlalu, aku masih tidak tahu siapa yang sebenarnya bersamaku; Aksa atau Raka?

    Ah, ada di mana aku? Apakah aku sedang berdiri di batas antara masa kini dan masa lalu?

*

Situbondo, 02 Februari 2026

 

Komentar

  1. woww,,,, jadi penasaran adakah dua lelaki itu di dunia nyata yaa hehehhe

    BalasHapus
  2. maksudnya "lemari kita" tuh lemari urang sekarangkan?🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan lah, maksudnya, "lemari si aku dan suaminya". dia lupa kalau sekarang lemarinya sudah milik berdua πŸ˜…πŸ˜…

      Hapus
    2. deskripsinya kayak nyeritain lemari dikamarku πŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus

Posting Komentar